co-living space

co-living space

Kebutuhan tempat tinggal kaum millenial pada jaman sekarang ini mulai berubah, hal ini dipengaruhi juga lewat kemajuan teknologi yang kian meningkat pesat. Hunian dengan tipe Co-living adalah yang paling baru dan paling populer untuk para kaum millenial. Beberapa apartemen baru di Jakarta saat ini mulai mengembangkan hunian apartemen dengan tipe Co-living.

Co-living ditujukan sebagai solusi dari beberapa orang yang ingin menghapus kerumitan dari kehidupan mereka dengan membayar satu tagihan yang mencakup semuanya. Secara umum konsep apartemen tipe co-living memiliki kemiripan dengan kos-kosan di Jabodetabek. Perbedaannya terdapat dari segi desain yang dihadirkan dalam hunian co-living yang mengadopsi desain ruang kerja bersama (co-working space). Di mana, para pekerja tinggal dan bekerja di tempat yang sama. Suasana seperti itu biasa dirasakan oleh para pekerja yang bekerja di sebuah Internet Agency seperti Online Marketing, Google bahkan kantor Facebook.

Diantara banyaknya kebutuhan kaum millenial, Co-living menawarkan berbagai fasilitas lengkap sebagai Community Living yang cocok bagi mereka yang memiliki hobi, pekerjaan, serta rutinitas yang sama. Dalam hunian tersebut terdapat working space, ruang makan, lobby serta fasilitas hobi mereka yang disediakan.

Dan banyak orang pindah karena mereka menginginkan masyarakat. Sebuah artikel majalah Wired terbaru tentang hidup bersama menunjukkan bahwa “di antara muda,” epidemi kesepian “telah mengalami peningkatan: hampir 60 persen anak berusia 18 sampai 34 tahun mengatakan kepada The Mental Health Foundation bahwa mereka sering merasa kesepian sesekali.”

Sebagai dari tujuannya sendiri konsep hunian Co-Living baik itu berupa rumah maupun apartemen adalah sebagai solusi untuk bisa hidup bersama secara berdampingan dengan orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama untuk menghilangkan rasa kesepian tersebut.

Kekurangan dari apartemen type Co-living sendiri ada pada harga nya yang cukup tinggi. Co-living juga akan menghadap pada komune spesifik, hingga ada pembatasan siapa yang dapat tinggal di tempat tinggal itu. Jadi umpamanya komune ini digolongkan berdasarkan umur, persamaan ketertarikan atau ketertarikan disuatu bagian spesifik. Bahkan juga ada yang khusus mengarah founder start-up, masyarakat high-tech, serta beberapa hal sesuai sama itu.

Rencana ruangan tinggal dengan itu tumbuh di pusat perkotaan, yang mana angka keinginan dari milenial makin bertambah sesaat supply tempat tinggal makin susah serta mahal. Beberapa prasyarat harus untuk milennial dalam mencari tempat tinggal yaitu status tempat tinggal yang multifungsi serta mempermudah mereka dalam bekerjasama dengan beragam pihak.

Prototipe co-living yang berada di Jakarta sebagian besar berada di apartemen-apartemen yang alih peranan. Dia memprediksikan perkembangan co-living juga belum juga pasti melampaui perkembangan co-working space. Namun tidak menutup kemungkinan juga banyak apartemen baru di jakarta mulai menggunakan desain co-living (community living space).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *