Perkembangan teknologi audio visual untuk bidang pendidikan

Setelah penggunaan film dokumenter dan film pendek sebagai alat bantu
media audio visual lainnya selama Perang Dunia II. Teknologi audio
visual secara bertahap dikembangkan mengikuti kecanggihan dan
penggunaannya menjadi lebih luas di lembaga pendidikan seperti
sekolah, akademi, universitas, museum, galeri, serta di tempat tujuan
wisata.

Perkembangan teknologi audio visual untuk bidang pendidikan


Karena film memang lebih disukai anak-anak, dan mereka belajar paling
baik dengan mengamati dan meniru perilaku orang dewasa. Oleh karena
itu terbukti bahwa belajar lebih efektif ketika pengalaman indrawi
manusia dirangsang. Ini termasuk gambar, slide, radio, video, dan alat
audio visual lainnya. Menurut kamus Webster, alat bantu audio visual
didefinisikan sebagai ‘materi pelatihan atau pendidikan yang diarahkan
pada indra pendengaran dan indera penglihatan, film, rekaman, foto,
dll’.


Maka tak heran bukan jika media audio visual banyak digunakan dalam
pelajaran kelas, koleksi perpustakaan atau yang sejenisnya. Karena
konsep alat bantu audio visual bukanlah hal baru dan dapat ditelusuri
kembali di abad ketujuh belas ketika John Amos Comenius (1592-1670),
seorang pendidik Bohemian, memperkenalkan gambar sebagai alat bantu
mengajar dalam bukunya Orbis Sensualium Pictus yang diilustrasikan
dengan 150 gambar kehidupan sehari-hari.


Demikian pula, Jean Rousseau (1712-1778) dan JH Pestalozzi (1746-1827)
yang menganjurkan penggunaan materi visual dan bermain dalam
pengajaran. Baru-baru ini, alat bantu audio visual juga digunakan
secara luas selama dan setelah Perang Dunia II oleh dinas bersenjata.
Keberhasilan penggunaan gambar dan alat bantu visual lainnya dalam
angkatan bersenjata AS selama Perang Dunia II membuktikan keefektifan
alat-alat instruksional.


Ada berbagai jenis bahan audio visual mulai dari filmstrip, mikroform,
slide, bahan buram yang diproyeksikan, rekaman tape dan flashcards.
Penting untuk menciptakan kesadaran bagi negara dan kementerian
pendidikan sebagai pembuat kebijakan di sekolah untuk menanamkan
pelajaran audio visual sebagai pengajaran utama pedagogi dalam
kurikulum. Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa ada
perbedaan yang signifikan antara penggunaan dan tidak menggunakan
materi audiovisual dalam pengajaran dan pembelajaran.

Baca juga: Menimbang interval perawatan piano yang harus dilakukanan

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *